Penyebabnya Bukan Karena Poligami

Setiap pernikahan, baik monogami maupun poligami pasti ada kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan oleh masing-masing pelaku pernikahan. Setiap laki-laki berkewajiban Mencukupkan kebutuhan keluarga dan memberi nafkah seperti, pangan, papan dan sandang serta perlakuan baik. Oleh karena itu, menikah tidak cukup hanya bermodalkan materi, tetapi juga mental, iman dan rasa tanggungjawab yang tinggi. Artinya, modal pernikhan tidak hanya bersifat materi, mampu secara seksual, tetapi juga dibutuhkan keshalehan individual. Memang, komitmen membangun biduk rumah tangga yang sejahtera, bukan hanya menjadi urusan laki-laki saja, tetapi juga perempuan. Akan tetapi, dalam hal ini, laki-laki merupakan fokus yang paling bertanggungjawab. Setiap perkawinan, pasti memiliki dua sisi kontrakdiktif. Ada saat-saat menyenangkan, namun ada pula saatnya berselisih dengan pasangan dan juga dengan anak-anak.

Pasang surut perkawinan merupakan hal yang biasa terjadi dalam perkawinan manapun. Hanya saja, cara penyelesaiannya, diserahkan kepada masing-masing pelaku. Agama menjadi instrumenpenting yang harus dimiliki oleh pelaku perkawinan, agar dapat bertoleransi dengan pasangannya. Keharmonisan rumah tangga ditentukan oleh kecenderungan masing-masing pelaku dalam menjaga komitmen awal berumah tangga. Dalam konteks poligami, diakui atau tidak, sangat rawan konflik dan prahara. Biasanya konflik yang terjadi akibat perselisihan antara para istriistri dan para anak hasil poligami dalam menentukan kebutuhan hidup mereka. Meskipun demikian, perselisihan antara mereka selama yang pernah ada, masih tetap dalam batas wajar, biasa dialami oleh siapa pundan keluarga mana pun.

Monogami atau poligami, tidak ada hubungannya dengan bubarnya sebuah lembaga perkawinan, karena penentunya adalah pribadi-pribadi pelaku, bukan bentuk perkawinannya. Asalkan perselisihan yang dipicu oleh kecemburuan para istri dan perseteruan di antara mereka, dapat dikontrol dengan baik, maka perkawinan poligami pasti dapat berjalan dengan baik. Oleh karena itu, memang dibutuhkan keshalehan individual dan kecerdasan spiritual yang tinggi dari para istri yang dipoligami. Di sinilah letak tanggungjawab seorang laki-laki yang akan memadu istri-istrinya. Kecerdasan dan kepemimpinan laki-laki yang akan berpoligami sangat penting dan harus lebih tinggi dari para istrinya. Membina keluarga poligami, tentu akan jauh berbeda dengan keluarga monogami. Andai saja seorang pemimpin keluarga poligami dapat mengatur atau mengatasi kecemburuan para istri dan dapat memimpin keluarganya dengan adil, maka sudah pasti tak akan pernah ada permasalahan dalam poligami, kecuali permasalahan-permasalahan yang biasa terjadi. Pendek kata, ada dua hal yang sering memicu perselisihan dalam keluarga poligami, yaitu kurangnya keshalehan laki-laki pelaku poligami, dan egoisme para istri yang dimadu, karena kurangnya kesadaran akan tujuan sebuah keluarga. Fitrah setiap perempuan, pasti tidak rela bila dimadu dengan perempuan lain. Akan tetapi, jika diceraikan atau suaminya meninggal, lalu ia menjanda, maka pasti ia akan mau menerima dimadu atau paling tidak ia bisa menemukan jawaban, mengapa ia mau dimadu atau menikah dengan suami yang sudah beristri. Ini juga merupakan fitrah perempuan, pada awalnya, ia tidak bisa menerima dan tidak pula bisa mahami, mengapa suaminya harus memadunya, akan tetapi, begitu ia menjanda, maka ia akan memahami dan memaklumi, mengapa suami orang lain memadunya. Kesabaran seorang perempuan muslim yang mau dimadu, pada saatnya nanti akan menemukan tiga pahala sekaligus, di hadapan Allah. Pahala bukan dari perbuatan suaminya, akan tetapi pahala karena ia sudah menjaga perempuan muslim lain dari perbuatan dosa, pahala dari menjaga suaminya dari kemaksiatan serta pahala dari keikhlasan serta kesabarannya dalam berbagi. Memang benar, banyak perempuan sekarang yang menempuh jalan lain. Mereka lebih suka membiarkan suaminya terjebak dalam kemaksiatan, asalkan dirinya tidak dimadu dengan perempuan lain. Setidaknya, mereka harus menyadari perasaan atau beban perempuan lain, karena harus hidupi —- istrinya, maka ia merasa tidak ada kesempatan berpoligami. Orang seperti ini, biasanya menghibur dirinya sendiri dengan cara berpurapura membenci poligami. Kelompok anti poligami di Barat, selalu berusaha mengaitkan poligami dengan Islam. Hanya dengan cara itulah, misi mereka akan mudah tercapai. Sebab, masyarakat Barat yang sudah sejak lama tidak menyukai Islam -karena stereotip-stereotip negatif tentang Islam di Barat-, tentu akan lebih mudah terpancing kebenciannya, melihat poligami sebagai sesuatu yang datang dari Islam. Jadi, penolakan tersebut, sebenarnya bukan karena poligaminya, tetapi karena unsur Islamnya. Apalagi, penggambaran poligami di Barat yang sangat tidak berimbang. Memang, masyarakat Barat, sering menggambarkan poligami sebagai adegan perselingkuhan. Padahal, poligami dan perselingkuhan merupakan dua kutub yang saling kontradiktif. Ibaratnya, pertikaian antara yang haq dengan yang bathil. Sebaliknya, bagi mereka yang anti-poligami perselingkuhan atau bahkan pernikahan sejenis dipandang lebih manusiawi dan sesuai dengan HAM, selama perselingkuhan didasarkan atas dasar suka sama suka. Sejatinya, peradaban masyarakat Barat saat ini, sedang memasuki peradaban “sakit”. Para pemudanya, yang bosan menunggu perkawinan, terpuruk di bawah kucuran minuman dan botol-botol memabukkan di berbagai pesta seks bebas. Kesucian atau keperawanan adalah budaya primitif.

Meskipun pemerintah telah berupaya melakukan segala cara, yang memotivasi individu maupun organisasiorganisai terkait untuk menangani problem ini, namun tetap saja mereka tak kunjung mendapatkan solusinya. Bahkan, pemerintah Perancis pada tahun 1901, telah mengadakan sebuah kongres guna membahas dekadensi moral yang diakibatkan oleh maraknya perzinaan. Sebab, negara itu pada tahun 1901, mengalami “stress berat” akibat ulah para pemudanya. Akibat hubungan seks bebas, di Perancis, jumlah anak-anak hasil hubungan gelap dan prostitusi yang terdapat di tempattempat penampungan di provinsi Seine sudah mencapai 50.000 orang. Selain menanggung biaya pendidikan, pemerintah Perancis juga harus menanggung beban hidup mereka. Pada saat yang sama, sebagian pengurus dari tempat-tempat penampungan ini ternyata banyak yang melakukan tindakan kekerasan terhadap anak-anak dan pelecehan seksual terhadap anak-anak gadis yang berada dalam asuhan mereka. Belum lagi, mereka dibiarkan mengalami kekerasan yang dilakukan oleh teman-teman mereka sendiri tanpa ada pengurus yang mau peduli terhadap nasib sebagain besar anak-anak yang tertindas. Seorang penulis wanita Inggris mengatakan: “sesunggunya telah banyak terjadi gelandangan dari anak-anak gadis kita, dan malapetaka telah merata, namun sedikit sekali orang yang mau peduli dengan nasib mereka. Dan seandainya saudara –yang juga seorang wanita- melihat dan memandang kepada anak-anak gadis tersebut, maka pastilah akan memiliki perasaan yang sama denganku. Perasaanku seperti disayat-sayat rasanya, karena belas kasihan kepada mereka dan sedih memikirkan nasib mereka. Akantetapi, apa arti keluh kesah untuk mereka. Sekalipun semua orang larut dalam kesedihan itu, toh keluh-kesah sebesar apapun tidak akan pernah mengentaskan mereka dari lubang “neraka” yang selama ini mereka berada. Dan seandainya poligami diperbolehkan tentulah malapetaka ini tidak akan menimpa masyakat ini”. Begitulah penulis wanita Inggris tersebut menangisi dan meratapi nasib putri-putri sebangsanya. Selama ini, ia berusaha menemukan jawaban dari pertanyaannya sendiri, mengapa pemerintah melarang kaum lakilakinya untuk mengawini perempuan-perempuan terlantar, di samping istri mereka yang telah ada”, sementara pemerintah tidak mampu menangani mereka dengan baik. Menurutnya, pemerintah tidak pernah serius berusaha mengentaskan para perempuan dan anak-anak hasil hubungan gelap yang terlantar di pinggir-pinggir jalan. Selain itu, pemerintah juga tidak pernah berusaha melindungi mereka dari kekerasan seksual dan hak-hak mereka secara sosial dan ekonomi juga sering dilanggar. Yang ada pemerintah memburu mereka dan terkadang membiarkan mereka berkeliaran setiap malam “menjajakan diri”. Padahal, setiap harinya, jumlah anak-anak yang terlahir dari hubungan gelap tergeletak di pinggir-pinggir jalan, karena dibuang oleh orang tuanya sendiri, semakin meningkat. Tak ada satupun jawaban yang tepat untuk berbagai pertanyaan tersebut di atas, kecuali kita harus membiarkankaum laki-laki berjuang menyembuhkan berbagai penyakit tersebut dengan cara menempuh jalan yang telah diberikan oleh Allah, yaitu berpoligami. Dengan mengijinkan kaum laki-laki menikahi lebih dari satu istri, maka hilanglah malapetaka yang mengancam kelangsungan hidup anak-anak gadis kita dan kaum perempuan pada umumnya. Berbagai penelitian di Barat menyebutkan, bahwa problem social dan moral yang sekarang ini terjadi, sebenarnya bermula ketika negara dan masyarakat negara-negara Barat, memaksa kaum laki-lakinya mencukupkan beristri satu orang saja. Akibat pembatasan ini, banyak anak-anak gadis yang menjadi gelandangan, tidak memiliki tanggungjawab mengurus anak, suami dan keluarga, karena mereka tak pernah menikah. Yang lebih tragis lagi, efek domino, akibat industri kapitalis, kaum perempuan dan gadis-gadis tak berdaya itu, dipaksa mencari nafkah dan bekerja yang biasa dikerjakan oleh kaum laki-laki. Fenomena selibasi yang kian marak di sebagian kalangan anak mudamudi, benar-benar telah menjadi hal yang wajar. Inilah, fenomena yang sedang dialami oleh negara-negara di Barat. Sementara itu, undang-undang mereka tak pernah menawarkan solusi apapun untuk mengatasi berbagai kasus pergundikan yang semakin marak. Meskipun para tokoh agama mereka sudah mulai mengkaji solusi yang pernah ditawarkan oleh Islam dengan konsep poligaminya, akan tetapi agaknya mereka masih malu-malu mengaplikasinya. Demikian pula, pemandangan yang terjadi di negara-negara Arab (Islam). Di negara-negara Arab, sekarang sedang gencar-gencarnya menyerukan gerakan anti poligami. Tidak hanya itu, sebab di negaranegara Muslim saat ini juga sedang giat-giatnya merancang undangundang untuk membatasi praktik poligami yang arahnya adalah membekukan undang-undang Islam dan memberlakukan undangundang yang telah mereka rekayasa sedemikian rupa. Baik Barat maupun Islam, sama-sama telah memaksa kaum lakilaki dan kaum perempuan untuk tidak hidup sesuai dengan tabi’at dan sunah alamiahnya (ketentuan-ketentuan alam). mereka ingin menjadikan laki-laki dan perempuan, bukan menjadi diri mereka, sebagaimana mereka diciptakan, tetapi menjadi makhluk lain. Setiap laki-laki tidak diperkenankan mengikuti fitrahnya, dan begitu juga, setiap perempun tidk boleh mengikuti fitrahnya. Keduanya dipaksa melakukan dosa besar, karena kuatnya naluri dan dorongan tabia’at dan sunah alamnya sendiri. Sementara itu, saluran atau pintu keluarnya telah ditutup rapat-rapat. Oleh karena itu, sejak awal, al-Qur’an telah memperingatkan perilaku ini: “Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri) nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan budak-budak yang kamu miliki yang menginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu. Dan janganlah kamu paksa budakbudak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi. Dan barang siapa yang memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa (itu).” Di negara-negara muslim, kampanye anti-poligami, justru lebih sukses dibandingkan di Barat. Angka perkawinan poligami di negaranegara muslim jauh lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara Barat. Dengan demikian, justru negara-negara muslim saat ini, lebih monogami dari pada negara-negara Barat. Poligami di negara-negara muslim paling banyak hanya pada level dua istri, itu pun prosentasenya tidak signifikan. Hasil sebuah penelitian lapangan tahun 2009, tentang perilaku poligami di negara-negara Arab saat ini, menunjukkan bahwa, keluarga poligami hanya menempati 4-8% saja dari jumlah keseluruhan penduduk berkeluarga. Di negara-negara seperti, Mesir misalnya, hanya 4%, sedangkan negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Yaman dan lainnya sekitar 6-8%. Selisih prosentase tersebut disebabkan keberhasilan masing-masing negara Islam dalam mengkampanyekan poligami. Di Mesir, para ulama menyerukan, poligami sebagai tantangan masyarakat modern yang harus dikaji kembali kebenarannya dalam agama. Sedang di negara-negara Teluk, meski mengakuinya, akan tetapi para ulama berbeda pandangan. Ada yang mengatakan, poligami adalah sunah, ada pula yang berpendapat, poligami hanya boleh dilakukan, manakala ada situasi atau kondisi darurat. Di negara-negara Barat, usaha melarang atau membatasi poligami meski dapat dikatakan sukses, akan tetapi pada dasarnya hanya sebatas retorika formalistik. Mereka tidak segan-segan memecat pegawainya, jika ternyata terbukti berpoligami. Akan tetapi, secara praktis, praktek poligami hidup dalam nadi hampir setiap keluarga di Barat. Artnya, ketika hampir semua instansi formal maupun non-formal di Barat, mempromosikan monogami secara besar-besaran, melarang ikatan keluarga poligami dan mempersempit gerak segala sesuatu yang berkaitan dengan poligami, namun pada kenyataannya, mereka menjalani kehidupan berpoligami. Sebab, hampir setiap laki-laki berkeluarga di Barat, memiliki wanita idaman lain atau simpanan. Bahkan, jumlah wanita simpanan di Barat kian hari kian meningkat. Fenomena ini, jelas menunjukkan bahwa, poligami sangat sesuai dengan kondisi yang sedang dilakoni oleh sebagian besar masyarakat di Barat sekarang ini. Tetapi, banyak negara-negara di Barat sekarang ini, justru melarang praktik poligami. Mengambil istri kedua, meskipun dengan persetujuan istri pertama dinilai sebagai sebuah pelanggaran terhadap hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM). Sementara itu, berselingkuh dan menipu istri, karena tanpa sepengetahuannya dianggap lebih manusiawi dan konstitusional. Sebaliknya, di negaranegara muslim, meskipun secara teoritis mayoritasnya mengakui ada ayat al-Qur’an yang membenarkan poligami, akan tetapi secara praktis sangat antusias menolaknya. Pada saat negara-negara muslim sedang sibuk melakukan sejumlah perubahan terhadap perundang-undangan perkawinan, agar poligami dihapuskan, justru negara-negara Barat, sedang berjuang melakukan kampanye menuntut adanya perombakan di bidang undang-undang perkawinan, agar poligami dapat dimasukkan dan disahkan oleh negara. Poligami hanyalah merupakan salah satu konsekuensi dari apa yang sedang diusahakan oleh negara-negara Barat dalam rangka untuk menghapus legalitas hukum al-Qur’an, tanpa harus merubah teksnya. Konspirasi dunia Barat untuk merubah teks al-Qur’an memang tidak pernah berhasil. Mula-mula mereka memang berusaha merubah bunyi, cara baca atau posisi suatu kata di dalam kesatuan ayat, agar maknanya berubah. Akan tetapi, usaha tersebut gagal, sebab ternyata masih banyak orang Islam yang mengafal al-Qur’an dengan akurat, sehingga sangat tidak mungkin al-Qur’an “dirubah” melalui strategi ini. Sehingga manuskrip, kaligrafi dan segala sesuatu yang berkaitan dengan teks tertulis ayat-ayat al-Qur’an, hingga kini dibiarkan sebagaimana adanya. Mereka membiarkan umat Islam membaca ayat-ayat al-Qur’an sebagaimana tulisan dan hafalannya, karena yang paling penting justru bukan teksnya, akan tetapi, efektivitasnya. Selanjutnya, kajian mereka tentang teks (tulisan) al-Qur’an ditinggalkan, kemudian bergeser pada kajian masalah teori bahasa yang bertujuan untuk mempertanyakan orisinalitas ayat-ayat al-Qur’an, apakah benar-benar dari Allah atau hanya sekedar hasil interaksi Muhammad dengan budayanya –Arabsaat itu, sehingga menghasilkan respons dalam bentuk ayat-ayat al-Qur’an. Dari focus ini, nampaknya ada celah yang dapat dimasuki. Sebab, umat Islam mulai termanggut-manggut (mengiyakan) dengan cara pandang dalam memahami al-Qur’an tersebut. Justru ide itu dinggap ide baru dalam memahami al-Qur’an. Jika al-Qur’an adalah hasil dari sebuah interaksi, maka al-Qur’an bukan buatan Allah, tetapi buatan Muhammad. Jika al-Qur’an merupakan respon budaya saat itu, tentu tidak berlaku sekarang atau yang akan datang. Cara ini pun mendatangkan banyak protes dari umat Islam, sebab hingga saat ini, umat Islam masih tetap meyakini bahwa al-Qur’an adalah murni wahyu dari Allah, bukan buatan Muhammad atau produk budaya Arab saat itu. Umat Islam juga masih banyak yang meyakini, efektivitas al-Qur’an berlaku kemarin, sekarang dan yang akan datang. Oleh karena itu, meskipun ide orisinalitas al-Qur’an dibangun di atas logika bahasa dan metode penuturannya yang runut, tetapi penolakan kaum muslim melalui dialog dan diskusi mengenai ide itu, tidak sia-sia. Kegagalan demi kegagalan para orientalis tersebut, justru memaksa mereka merubah orientasi dan strategi. Para orientalis, nampaknya mulai menyadari bahwa, keterkaitan umat Islam dengan kitab sucinya adalah kekuatan yang menyatukan antara umat Islam dengan Tuhannya. Mereka berusaha melakukan cara lain, agar al-Qur’an bukan lagi menjadi kekuatan bagi umat Islam. Oleh karena itu, yang penting bukan manuskrip atau orisinalitas al-Qur’an, tetapi ketentuanketentuan yang ada di dalamnya. Membendung segala nilai moral, spiritual dan emosional yang bersumber dari al-Qur’an inilah yang patut diwaspadai. Tujuannya, menjadikan hukum dan ketentuan-ketentuan al-Qur’an tidak efektif bagi kehidupan umat Islam. Biarkan umat Islam membaca al-Qur’an sebagaimana ayat-ayat tersebut bertebaran di dalam mushab (kitab suci), biarkan mereka meyakini al-Qur’an sebagai sebuah wahyu Illahi, yang penting adalah menggiring umat Islam kepada pemahaman al-Qur’an sesuai dengan yang dikehendaki Barat. Mereka membangun cara berpikir ini melalui sejumlah alat, metode dan nilai kebenaran pemahaman yang tentu sudah mereka persiapkan melalui image, ide, metode, filsafat ilmu dan kebenaran global. Sejumlah perangkat untuk memahami al-Qur’an tersebut sudah dirancang, mulai dari hermeneutic, kaidah bahasa, filsafat bahasa, kultur, dan segala macam metodologis, hingga standarisasi nilai kebenaran hanya ada pada mereka. Meskipun agak kelihatan aneh, -kaidah, filasfat dan metode bahasa yang digunakan untuk memahami al-Qur’an bukanlah bahasa Arab, tetapi bahasa Inggris- tetapi, umat Islam nampak terpesona dengan gagasan-gagasan tersebut. Implikasinya, sejumlah penafsiran al-Qur’an direkonstruksi kebenarannya, sehingga disepadankan dengan kebenaran “ilmiah” Barat. Hal ini dapat dilihat melalui sejumlah aplikasi penafsiran beberapa ayat al-Qur’an. Misalnya, dalam masalah qishash, urusan rumah tangga, idaah, ketentuan warisan, kesaksian perempuan, penciptaan wanita, poligami dan masih banyak lagi contoh yang tidak dapat disebut satu per satu di sini. Ketentuan qishash (hukuman mati), dianggap sebagai sesuatu yang sangat bertentangan dengan Hak Asasi Manusia (HAM). Sebab, setiap manusia yang hidup memiliki hak dasar di antaranya adalah hak untuk hidup. Tujuan dari perjuangan ini adalah menghapus hukuman mati bagi siapapun, seberat apapun dan dalam keadaan apapun. Jika dicermati, penghapusan hukuman mati, secara langsung adalah penghapusan efektivitas ayat al-Qur’an. Coba perhatikan ayat: “Dan di dalam qishash itu ada (jaminan kelangsuangan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa”. Islam memandang, justru dalam hukuman mati –bagi yang pantasterdapat keamanan, kenyamanan, perlindungan- terdapat kehidupan yang damai, yang diimpikan oleh setiap manusia di dunia manapun. Contoh lain, salah satu kewajiban suami adalah mendidik istri. Tetapi, kewajiban yang sangat legal dalam pandangan Islam ini, bisa menjadi petaka bagi laki-laki, jika tidak dilakukan sesuai dengan keinginan dan kebenaran mendidik menurut Barat. Sebab, bisa-bisa bukan “pahala” yang didapatkan oleh suami, tetapi justru harus meringkuk di penjara. Dalam naungan prinsip Hak Asasi Manusia, seorang istri bisa saja memperkarakan sang suami, jika sang suami telah memukulnya. Sebab, pemukulan dalam bentuk apapun merupakan sesuatu yang dapat dikategorikan sebagai kekerasan dalam rumah tangga, sekalipun pemukulan itu dilakukan misalnya, dengan menggunakan sapu tangan, dan bukan dengan pukulan yang dapat menimbulkan luka. Pelaku –dalam hal ini adalah suami- meski selamat dari pasal penganiayaan secara fisik, seorang istri bisa memperkarakannya melalui pasal perbuatan tidak menyenangkan atau kekerasan psikis. Melalui undang-undang itu, sang suami bisa terkenai pasal tentang kekerasan dalam rumah tangga. Bukankah ini usaha meghapus efektivitas ayat al-Qur’an; “ …Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menta’atimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”. Pantas diacungi jempol, semangat Barat dalam menjelaskan alQur’an sering kali menggunakan prinsip-prinsip yang berlaku di kalangan ulama Islam, sehingga hal ini sangat sulit dibedakan oleh umat Islam sendiri. Misalnya prinsip atau kaidah: “al-hukmu yaduru ma’al ‘illati wujudan wa ‘adaman (suatu hukum ditetapkan berdasarkan kondisi dan situasi yang melingkupinya)”. Padahal, tidak semua hukum ditetapkan berdasarkan kaidah tersebut. Ilustrasi berikut ini mungkin dapat menjelaskan apa yang dimaksud. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah pernah ditanya oleh salah seorang sahabat beliau tentang seseorang yang menikahi dua perempuan yang masih memiliki hubungan darah atau nasab yang dekat (bibi dengan keponakan). Rasulullah menjawab, “Tidak diperkenankan bagi kalian, mengumpulkan (mengawini) seorang perempuan dengan bibinya dalam tempat yang sama, sebenarnya jika kalian lakukan itu, maka berarti kalian telah memutus tali silaturrahmi (hubungan persaudaraan) di antara mereka”. Hadis ini, jika dikaji dengan menerapkan kaidah atau prinsip di atas, maka alasan pelarangan yang dicoba dihapuskan adalah pemutusan hubungan tali silaturrahim. Lalu, bagaimana jika dengan mengawini mereka, tetapi tidak memutuskan tali persaudaraan, apakah hal itu diperbolehkan? Larangan mengawini dua perempuan yang masih memiliki hubungan nasab, sama sekali tidak ada hubungannya dengan adanya illah (alasan) yang menyertainya. Ketentuan itu, ditetapkan bukan semata karena dikhawatirkan akan terjadinya pemutusan hubungan persaudaraan saja. Akan tetapi, ada hikmah Ilahiyyah yang tersembunyi yang tidak diungkapkan oleh Rasulullah. Sedangkan, jawaban Rasulullah kepada sahabatnya tersebut, karena alasan muqtadhal hal (disesuaikan dengan lawan berbicaranya). Atau setidaknya, karena alasan itulah yang paling mudah diterima oleh si penanya dan paling rasional bagi masyarakat awam. Apabila umat Islam ingin selamat -tidak mengalami nasib seperti umat-umat terdahulu- maka tidak ada jalan lain kecuali, umat Islam harus tetap berpegang teguh kepada al-Qur’an, dengan cara menjalankan ajaran-ajarannya. Merubah ayat-ayatnya melalui tangantangan mereka sendiri, lalu berkata: Inilah Kitab yang berasal dari Allah, sama saja mengulang kebodohan umat-umat terdahulu. Umat yang pernah dilaknat oleh Allah karena mereka merubah kitab suci melalui tangannya sendiri. Firman Allah yang artinya: “Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: Ini dari Allah, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri dan kecelakaan besarlah bagi mereka, karena apa yang mereka kerjakan”. Secara teologis, menyangsikan al-Qur’an sebagian atau keseluruhannya adalah sebuah indikasi ketidaksempurnaan iman seorang mukmin. Hal ini pula yang menjadi peringatan Allah terhadap Bani Israel, agar tidak memilih-milih ayat yang menguntungkan pribadinya atau menyangkal sebagian kebenaran yang ada di dalamnya. Firman Allah yang artinya: “Apakah kamu beriman kepada sebagian Al-Kitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain?” Dan ayat: “Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutarmutar lidahnya membaca Al-Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al-Kitab, padahal ia bukan dari Al-Kitab dan mereka mengatakan: Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah, padahal bukan dari Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui”. Kedua ayat itu, jelas memperingatkan umat Islam, agar tidak memutar balikkan fakta, mencari-cari pembenaran untuk mengingkari sebagian ayat-ayat-Nya dan mengklaim sebagian yang lain (jika sesuai dengan keinginannya). Mengingkari kebenaran Islam yang mengijinkan poligami, sama saja mengingkari kebenaran Islam secara keseluruhan. Sedangkan menolak ajaran Islam –sebagian atau keseluruhan- itu artinya, menolak Islam sebagian dan menerima segian. Padahal, Islam sudah menganjurkan: masuklah ke dalam (agama) Islam secara keseluruhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: