Akhwat Naik Ojeg?

Ilustrasi: te3we3.multiply.comIlustrasi: te3we3.multiply.com

Demam ojeg melanda, seiring perkembangan permotoran Indonesia yang lagi booming. Sudah tentu booming motor ini terlahir dari lingkaran tak berujung di antara titik-titik korupsi kecil-kecilan (kecil-kecilan atau besar?), jalan yang bolong-bolong, aturan lalu lintas yang diitegakkan hangat-hangat tahi ayam (misal lagi musim safety belt, polisi sibuk menilang yang gak pake sabuk yang gak pake helm dicuekin, kalo lagi musim helm polisi sibuk nilang para pengendara motor, yang gak pake sabuk dicuekin, jadi esensi penegakkan aturan lalu lintas kita adalah duit!), dan cara mengkredit motor yang asoy, hingga motor laku bak gorengan di musim penghujan, laris manis.

Sampe-sampe tukang delman langganan saya, pak Alan, bilang “Jaman ayeuna mah neng gampil pisan meser motor teh. barudak teh mun tos gaduh opat ratus (rebu) tos tiasa kenging motor enggal, ojegkeun weh, tah mun artosna tos seep keun wae antepkeun cicilan teu kedah dibayar ngantosan dijabel we. Engke mun tos gaduh artos deui, nyandak deui cicilan motor nu enggal, anggo we motorna nepikeun ka dijabel deui…” (halah…)

***

Demam ojeg telah melindas penghasilan kecil tukang delman langganan saya, dibanding delman, ojeg lebih murah, lebih gesit, dan lebih gampang nyarinya, karena sekarang pangkalan ojeg tumbuh subur di mana-mana.

Demam ojeg juga telah melindas para sopir angkot. Karena kalo dulu persaingannya hanya sebatas sesama angkot, sekarang kompetitornya bertambah dengan hadirnya ojeg-ojeg yang bisa nangkring di mana saja.

Dan diam-diam ternyata demam ojeg juga turut merambah dunia da’wah. Karena ternyata tak sedikit aktvis da’wah, kader da’wah akhwat juga turut menjadi pelanggan setia ojeg. Dengan alasan efisiensi, darurat, atau gak ada angkot. Kini kita melihat ada akhwat yang tak segan-segan naik ojeg datang ke tempat ngaji.

Saya sering bertanya-tanya sendiri, memang sebenarnya sedarurat apakah kondisi yang membolehkan akhwat naik ojeg? Apakah karena khawatir telat datang liqa’/ta’lim maka itu termasuk kondisi darurat yang mengondisikan ojeg is fine ?

Pernah juga seorang ummahat ketemu saya, beliau sedang naik ojeg, lalu ketika bertemu saya, beliau berpesan dengan kemalu-maluan, “teh jangan bilang-bilang ya kalo saya tadi naik ojeg, karena suami saya orangnya pencemburu,” dalam hati saya, “kalo udah tau suaminya gak akan ridha, kenapa dia naik ojeg?”

Saya merasa aneh juga dengan diri saya sendiiri, karena bukan sekali-dua saya melihat akhwat/ummahat naik ojek, saya jadi ‘cemas’, jangan-jangan saya yang ketinggalan zaman nih, sekarang makin banyak aja akhwat/ummahat yang ngojek tapi ayem-ayem aja, kenapa saya yang cuma liat aja merasa gak enak ya? jangan-jangan cuma saya yang gak enak, jangan-jangan emang sekarang, sebenarnya tanpa saya sadari, keadaan sudah darurat, datang ta’lim, liqa, dll adalah manhaj darurat sehingga saya udah ketinggalan manhaj!

Heran juga saya, di sebuah SDIT, seorang ibu gurunya datang dengan dibonceng ojeg, tidak habis pikir juga saya, bagaimana sang ibu guru menjelaskan konsep hijab pada anak-anak yang seharusnya dikenalkan pada anak-anak. Bukankah hikmah terbaik disampaikan dengan teladan? Alangkah bijak jika anak melihat bu gurunya mengusahakan dirinya dalam menjaga hijab atau jangan-jangan ini pandangan saya aja yang masih kolot.

Pernah juga iseng saya bertanya pada suami, “bi, kalo abi liat ummi naik ojeg gimana?”, saya menanti jawaban dengan harap cemas, jawaban suami saya singkat, “janganlah!” Alhamdulillah, sesuai benar dengan hati saya, karena saya memang tak ingin suami saya membolehkan begitu saja istrinya ini dibonceng laki-laki lain (tukang ojek) kalo enggak ‘darurat-darurat banget’.

Jadi ternyata demam ojeg juga sudah melindas kitakah ?

Husnudzhan saya, mungkin ketika saya melihat akhwat naik ojek, beliau sedang dalam kondisi amat darurat dan semoga kondisi darurat ini enggak sering melanda kita, apalagi jadi langganan (langganan darurat).

wallahu a’lam bish shawwab.

Semoga saya tidak berada pada kondisi darurat yang mengharuskan ngojek.

Penulis: Ike Trilitadewi, e-mail ike.trilitadewi@ymal.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: