Takut Kepada Allah Melahirkan Jiwa Ksatria, Perkasa dan Berwibawa (Bagian II)

Pada kajian sebelumnya telah disampaikan bahwa apabila hati telah buta, maka yang diperhitungkan pertama adalah kemarahan penguasa zalim hingga melupakan murka Allah. Sehingga pahala dan siksa akhirat terlihat remeh baginya, kemudian menukarnya dengan kesenangan dunia yang fana dan murah!!

Jadi, jangan heran dengan adanya fatwa-fatwa aneh yang dikeluarkan oleh orang-orang seperti mereka ini, seperti fatwa bolehnya berdamai dengan negara Yahudi, bolehnya meminta bantuan kaum kafir untuk memerangi kaum Muslim, bolehnya membunuh (bughât, kaum pemberontak) yang membangkang pada penguasa yang melakukan kekufuran secara nyata, serta bolehnya menumpahkan darah, merampas harta dan kehormatan mereka yang ikhlas di antara umat ini, yaitu mereka yang melakukan amar makruf nahi munkar, karena mereka diklaim sebagai “teroris, ekstrimis, dan tidak menaati penguasa”, dan fatwa-fatwa lainnya yang dibuat oleh mereka yang telah menjual dirinya pada para penguasa jahat. Sehingga apapun pekerjaan dan ketetapan yang mereka buat, semua berujung pada kejahatan dan kriminalitas.

Dengan demikian, rasa takut kepada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Kuasa merupakan tanda di antara tanda-tanda ketakwaan dan kesalehan. Dan ini merupakan warna yang sama yang menjadikan jiwa dan raganya ikhlas hanya kepada Allah, Tuhan semesta alam. Bahkan warna ini juga yang menjaga serta menyelamatkan pemiliknya dari jatuh ke dalam perangkap para thaghut, serta menyelamatkannya dari condong kepada para kekasih setan.

Pemilik warna ini tidak akan pernah terpengaruh dengan berbagai teror, serta tidak akan berpaling dari melaksanakan kewajiban yang dibebankannya (seperti melakukan amal-amal shaleh, berkorban di jalan Allah, menyelamatkan dan membebaskan umat dari belenggu kolonialisme, antek-anteknya, agen-agennya, dan orang-orang jahat disekitarnya); serta tidak pernah terpengaruh dengan berbagai alat penyiksaan dan cambuk para algojo. Mereka adalah orang-orang yang tidak takut penjara, serta tidak gentar menghadapi berbagai tantangan dan terjangan peluru. Hal-hal seperti ini dalam pangdangannya merupakan sesuatu yang remeh demi meraih ridha Allah SWT.

Al-Qur’an dan kitab-kitab sejarah telah memberi kami teladan kehidupan mereka yang begitu agung, yaitu mereka yang begitu jantan dan berani menghadapi para thaghut. Allah SWT berfirman tentang keberanian para penyihir yang didatangkan Fira’un untuk melawan Musa as.: “Fir’aun berkata: ‘Apakah kamu sekalian beriman kepada Musa sebelum aku memberi izin kepadamu? Sesungguhnya dia benar-benar pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu maka kamu nanti pasti benar-benar akan mengetahui (akibat perbuatanmu); sesungguhnya aku akan memotong tanganmu dan kakimu dengan bersilangan dan aku akan menyalibmu semuanya’. Mereka berkata: ‘Tidak ada kemudharatan (bagi kami); sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami, sesungguhnya kami amat menginginkan bahwa Tuhan kami akan mengampuni kesalahan kami, karena kami adalah orang-orang yang pertama-tama beriman’.” (TQS. Asy-Syu’ara [26] : 49-51).

Sementara di tempat lain Allah SWT berfirman: “Mereka berkata: ‘Kami sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mu`jizat), yang telah datang kepada kami dan daripada Tuhan yang telah menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja. Sesungguhnya kami telah beriman kepada Tuhan kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami melakukannya. Dan Allah lebih baik (pahala-Nya) dan lebih kekal (azab-Nya)’. Sesungguhnya barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya baginya neraka Jahannam. Ia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup.” (TQS. Thaha [20] : 72-74).

Dari sini jelas sekali bahwa bujukan dan rayuan Fir’aun tidak berpengaruh sama sekali terhadap keimanan mereka; serta berbagai ancamannya tidak membuat mereka takut untuk menentangnya, bahkan mereka bertekad untuk mengikuti Musa ketika kebenaran telah jelas di depan mata mereka.

Fir’aun di zaman dulu dan beragam Fir’aun di zaman kita sekarang, betapapun besarnya kekuatan dan canggihnya peralatan yang mereka miliki, tidak akan pernah mampu memalingkan tekad mereka untuk tetap melangkah di jalan kebenaran (Islam) yang telah mereka yakini.

Bahkan betapun mereka berusaha meningkatkan tindakan kezaliman dan kekejamannya, mereka tidak akan pernah mampu memberi diri mereka gambaran hitam yang kasar yang hanya ditakuti oleh hewan-hewan di hutan. Namun di mata orang-orang yang takut kepada Allah, mereka selamanya tetap hanyalah tikus-tikus kurus yang bersembunyi di balik dinding pagarnya yang dijaga siang dan malam.

Keistimewaan beriman kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Kuasa; serta takut terhadap kekuatan dan balasan-Nya, akan mengkilapkan hati, menghilangkan karat-karat yang menempel, serta mengisinya dengan kejantanan, keberanian dan keperkasaan, seperti keberanian orang-orang terbaik-kami menyebutkan mereka di sini bukan untuk membatasi-yaitu Sufyan ats-Tsauri, Abu Hanifah, Imam an-Nawawi, Ibnu Qayyim al-Jawziyyah, Ibnu Taimiyah, Syaikh Abdul Aziz al-Badri, Syaikhul Islam Musthafa Shabri, Sayyid Quthub, Abdul Qadir Awdah, dan masih banyak yang lainnya. Semoga Allah senantiasa merahmati dan memberkati mereka semua, serta orang-orang yang seperti mereka dalam aktivitas dan keberaniannya. Mereka dan orang-orang yang sepertinya merupakan cermin kehormatan umat, serta cermin kebanggaan dan kejantanannya. Mereka semua menolak untuk hidup sebagai pengecut. Mereka lebih memilih mati, penjara atau pergi daripada hidup terhina di antara para penguasa tiran. Sehingga atas dasar ini, wajib memahami masalah takut, dan menggunakan dengan cara yang benar.

Dan sebagai tambahan, maka di sini kami ingin menambahkan penjelasan terkait persoalan ini, yaitu bahwa takut kepada Allah merupakan jalan satu-satunya untuk menyelamatkan diri dari perbudakan dan penindasan.

Ketahuilah bahwa takut kepada Allah SWT adalah satu-satunya jalan keluar dari perbudakan, karena takut kepada Allah menyimpan kekuatan untuk membebaskan manusia dari keburukan dirinya dan dari orang lain. Berbeda dengan takut kepada selain Allah, di mana ia akan membelenggu manusia dan menjadikannya budak yang diperbudak oleh dirinya dan orang lain, yakni ia akan menjadi tawanan dirinya sendiri dan tawanan dalam penjara orang lain. Oleh karena itu, takut kepada Allah akan memberikan perlawanan selalu terhadap godaan dunia dan hawa nafsu dirinya, menyakini bahwa di dunia hanya sementara, tidak tertipu dan tidak terpengaruh oleh kemewahan dan perhiasan dunia. Sebab dunia baginya bukanlah cita-cita dan tujuan akhir, ia memandang dunia dengan pandangan yang remeh, dunia baginya tidak lebih dari sebuah jembatan yang menghubungkan antara dunia dan akhirat, sehinga ia mengambil dunia sekedar yang dibutuhkan saat menyeberangnya. Allah SWT berfirman: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (TQS. Al-Qashash [28] : 77).

Dengan demikian, sesuai dengan konsep pembebasan dari belenggu dunia dan perangkap nafsu ini, maka seseorang benar-benar terbebas dari beban berat ketergantungan dan ketundukan kepada selain Allah. Sehingga keterikatan dan ketergantungannya di dunia setelah itu hanyalah kepada syariah Allah dan kedaulatannya. Di dunia ini tidak akan pernah menyerah dan tunduk kepada selain Allah. Tentu orang yang seperti ini berbeda dengan kelompok orang yang hina, yaitu orang-orang yang diperbudak dunia, tertipu dan terpedaya oleh kemewahan dan perhiasan dunia. Akibatnya, mereka begitu tunduk dan patuh dengan dorongan syahwat dunia. Akibatnya ia benar-benar telah kehilangan potensi-potensi kewibawaan, keperkasaan dan kemuliannya. Sehingga dengan ini semua ia tetap menjadi tawanan yang hidupnya senantiasa diselimuti kehinaan.

Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana mereka akan menjadi bagian dari manusia mulia dan perkasa. Sementar mereka menjadi alat yang begitu taat dan patuh dengan para penguasa jahat serta tiran dunia. Hidup mereka dikendalikan dan diarahkan oleh para tiran. Mereka menjalankan setiap perintahnya, dan sedikitpun tidak ada keberanian untuk menolaknya. Selanjutnya, mereka mengusir para pengemban Islam, menangkap dan menyiksanya dalam rangka untuk menyenangkan tuan mereka, para penguasa tiran. Padahal mereka pada hari kiamat nanti akan berlepas diri ketika mereka tahu bahwa tempat mereka di neraka. Allah SWT berfirman: “(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: ‘Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.’ Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan ke luar dari api neraka.” (TQS. Al-baqarah [2] : 166-167).

Terakhir kami katakan bahwa takut kepada Allah, dan mecari ridha-Nya akan mengangkat seseorang ke puncak kemuliaan, dan menjadikannya berada dalam kedudukan yang tinggi. Sebaliknya takut kepada sesama makhluk untuk mencari ridhanya, akan mendatangkan murka Allah, serta menurunkannya pada tingkat kehidupan paling rendah dan paling hina. “Mereka bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka.” (TQS. Muhammad [47] : 12).

Semoga Allah menjadikan kami di antara orang-orang yang bertakwa kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa, orang-orang yang tidak takut karena Allah terhadap celaan para pencela. Sehingga dengan ini, kami akan mendapatkan kemenangan, sepeti kemenangan yang telah diraih oleh Rasulullah Saw dan para sahabatnya, semoga Allah senantiasa meridhai mereka semua. “Dan sampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang beriman.” (TQS. At-Taubah [9] : 112).

Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 31/12/2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: