Aku Jatuh Cinta pada Seorang Janda

Bujang Lapuk & Natya

 

Aku memutuskan memarkir motor bututku dan berlari demi menghindari macet.  Napasku terengah-engah berusaha sampai ke halte bus tempat dia biasa turun. Masih terngiang-ngiang di telingaku perkataannya lewat telpon, yang membuat aku kalang kabut dan secepatnya mencarinya. Aku tak ingin mengakhiri hubungan kami dengan cara seperti itu. Aku sangat menyayanginya, meskipun aku adalah seorang perjaka dan dia janda beranak dua.

Suwer, ini adalah hal tergila dan teromantis yang pernah kulakukan. Seumur-umur aku telah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku takkan mudah jatuh cinta. Sejak aku kehilangan ayah tercinta yang tak kuajak berbicara bertahun-tahun karena tidak menyetujui gadis pilihanku. Aku telah memutuskan hanya akan mengabdikan diriku untuk ibu dan keluargaku. Aku adalah tulang punggung keluarga. Bekerja, bekerja, dan tak ada waktu untuk bercinta!

Kupelototi setiap wanita yang turun dari angkot, hingga seorang nenek-nenek menatap curiga dan nyaris menghantam lututku dengan tongkatnya. Aku berlari menuju angkot yang ada di sebelah angkot si nenek dan buru-buru mencari wajahnya diantara para penumpang, tapi hasilnya nihil ….. Yang kulihat adalah ibu-ibu berbadan besar dengan sepasang pepaya hawaii matang di pohon yang bergelantungan, melotot dengan galak ke arahku …..

Akhirnya sebuah angkot berhenti dan aku melihat seorang wanita berkulit putih dan bertubuh ramping turun. Aku buru-buru menghampirinya, dan menarik tangannya. Wajahnya langsung memucat dan badannya bergetar.

Mengapa abang disini?” bisiknya dengan bibir gemetar.

Kita bicara di tempat yang lebih tenang saja, “ ujarku. Aku lantas mengajaknya ke tempat makan favorit kami tak jauh dari sana.

Sepanjang jalan aku menggenggam tangannya, dan dapat kulihat tetes airmata membasahi pipinya. Tatapan orang-orang yang ingin tahu serasa hendak menelanjangi kami berdua, tapi aku tak peduli. Ini adalah cintaku dan aku akan berusaha mempertahankannya.

Sebenarnya kisah antara aku dan Non si Janda telah dimulai bertahun-tahun yang lalu. Non adalah tetanggaku, dia sudah dianggap seperti anak sendiri oleh ibuku. Akupun menyayanginya, tapi tak bisa seperti kasih sayang seorang kakak terhadap adiknya. Sering aku dengan sembunyi-sembunyi memperhatikannya dan mengaguminya. Wajahnya rupawan tapi hatinya jauh lebih menawan.

Tapi sayang Non adalah istri sahabatku sendiri.

Aku pun tahu bahwa Non memiliki perasaan yang sama denganku, tapi kami berdua sama-sama berusaha meredamnya. Bagaimanapun ada sahabat dan dua orang anak yang tidak pantas kuhancurkan hidupnya. Tapi sejak sahabatku memutuskan untuk menikah lagi, keadaan mulai berubah. Non tak mau dipoligami, dan suaminya mulai bersikap kasar padanya. Aku hanya bisa mengelus dada saat Non curhat tentang kekerasan yang dialaminya. Dari lemparan asbak, caci maki, dan berbagai ancaman yang dia tak bisa tahan. Duh, sahabatku yang bodoh ….. kau menyia-nyiakan seseorang yang begitu aku dambakan! Dan akhirnya mereka pun bercerai ….

Cinta itupun semakin bersemi meski kami telah berusaha menghalanginya. Bagaimanapun juga ibu mertua Non masih mengharapkan Non bisa rujuk kembali dengan anaknya demi buah hati mereka. Mertua Non dan ibuku juga sahabat karib. Aku tahu ibu pasti takkan merestui bila tahu perasaanku kepada Non.

Tapi akhirnya aku dan Non menyerah, kami memutuskan berkencan dengan sembunyi-sembunyi. Tiada hari tanpa aku mengucapkan betapa aku mencintainya. Hatiku rasanya bahagia tak terkira saat menatap bibirnya yang merekah indah mengucap kata sayang. Aku tak peduli dia janda beranak dua. Aku, si bujang lapuk tampan yang tak ingin jatuh cinta telah menyerah kalah ….

Masalah besar terjadi saat keluargaku mengetahui hubungan kami. Kakakku sampai sakit dan menolak berbicara denganku. Adikku mendatangi Non di kantornya dan mencaci makinya serta menyuruhnya menjauhiku. Non lalu menelponku dan meminta agar aku berhenti menemuinya. Dia tak ingin menyakiti hati keluargaku.

Itulah sebabnya hari ini aku berdiri di halte dengan mata nyaris jereng memelototi semua angkot yang berhenti. Kutinggalkan semua pekerjaanku dan menyusulnya kemari. Aku meminta agar Non bersabar sementara aku mencoba berbicara dengan keluargaku. Kami pun pulang terpisah setelah aku berhasil menenangkannya.

Aku pergi mengambil motorku dan pulang ke rumah. Kulihat ibu dan adikku tengah asyik menonton TV.

“ Tadi siang kamu ada dimana?” tanyaku kepada adikku.

Wajah adikku memucat dan dia pergi menghindariku ke ruang tengah. Ibu mengikuti kami berdua. Kusuruh adikku duduk dan kutanya dia sekali lagi.

Tadi siang kamu ke kantor Non?” tanyaku gusar.

Dengan menunduk adikku lalu menceritakan kejadian saat dia melabrak Non ke kantornya. Ibu tampak merenung dan terdiam. Tanganku sudah terkepal menahan marah, tapi aku berusaha berbicara dengan kepala dingin.

“Ibu, aku mencintai Non! Kalaupun ada yang salah dalam hubungan kami, biarlah aku yang menanggung! Jangan usik Non lagi!”

Kau sudah gila? Dia itu istri sahabatmu sendiri!” teriak ibu.

“ Mantan istri, Bu! Tidak ada yang salah dalam hubungan kami. Dia sudah bercerai dan akupun masih sendiri ….”

“ Apa kata tetangga nanti? Mereka mana mau tahu. Yang mereka tahu kau merebut istri sahabatmu sendiri! Pasti orang akan mengira perceraian mereka karena perselingkuhan kalian!”

“ Demi Tuhan aku tak pernah mengusiknya saat dia masih istri orang! Tak pernah, Bu. Aku masih waras dan tahu batas!”

Ibu tak bisa menerima hubungan kalian. Bagaimana ibu harus mengatakannya kepada mertua si Non? Dia masih berharap Non bisa rujuk dengan anaknya! Mereka sudah punya dua anak!”

“ Suaminya sudah menceraikannya karena perempuan lain, Bu! Mertua Non seharusnya tau anaknya yang telah menyia-nyiakan Non! Mengapa Non yang masih disalahkan?”

Akhirnya ibuku meminta berbicara dengan Non. Akupun menelpon Non dan melihat bagaimana ibu berbicara kepadanya dengan airmata berlinang. Walau bagaimanapun ibu tak menyetujui hubungan kami. Dia tak keberatan dengan status Non yang janda beranak dua, tapi dia tak mampu menghadapi sahabatnya  sekaligus mantan mertua Non yang masih berharap Non bisa rujuk dengan anaknya. Seluruh anggota keluargaku juga tak tahan dengan gunjingan tetangga yang mulai berkasak-kusuk tentang hubungan kami. Ibu tak tahan harus memikul rasa malu jika anaknya digunjingkan telah merebut istri orang.

Setelah pembicaraan yang melelahkan itu, kesesokan harinya Non menemuiku dan berkata, “ Aku tak sanggup hidup tanpa abang, jangan tinggalkan aku lagi!” OMG ….  Tenggorokanku terasa tercekat dan kugenggam erat tangannya.

Sampai saat ini ibu dan seluruh keluargaku tak menyetujui hubunganku dengan Non. Beliau dan saudara-saudaraku memperlakukanku dan Non dengan dingin. Kadang terpikir kami mau kawin lari saja, tapi aku tak mau mengulangi kesalahan yang pernah kuperbuat terhadap almarhum ayahku dulu. Bagaimanapun aku adalah tulang punggung keluarga. Aku sungguh mencintai mereka

Setelah sekian lama bergabung dengan KoKi walaupun hanya sebagai silent readers, aku khusus meminta si Natiyem yang aneh dan agak gila ( baca : cantik, penulis ) untuk menuliskan kisahku. Walaupun kutahu tulisannya selalu nyeleneh dengan pageview yang rendah. Tapi kepadanya aku berharap bahwa kisah cintaku yang indah tidak akan berubah menjadi skandal seks yang memacu syahwat dengan judul bombastis  ‘Keperjakaanku Diambil Janda Beranak Dua’.

Aku sungguh berharap KoKiers bisa membantu memberikan saran untukku. Walau kutahu sarannya akan  aneh bin ajaib. Paling tidak komeng-komeng anda sekalian bisa menghibur hatiku yang tengah gundah gulana ini ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: