Cinta Sepenuh Hati, Setulus Jiwa Dan Raga Ini

Saya mau bercerita. Bahwa saya, jatuh cinta. Sedang merasa berbunga-bunga. Suatu perasaan yang terwakilkan. Karena dia juga ku harap  mencintai saya tentunya. Saya bahagia. Ku tak ingin cinta saya tak bertepuk sebelah tangan. Saya percaya, dia akan mencintai saya, senantiasa dan selamanya. Karena begitu juga saya padanya. Begitu mencintainya, tulus tak ada batasan, mutlak tak tergantikan. 
Walau terkadang, pernah juga dia saya ragukan. Dengan alasan tak refresentatif memang. Katanya “naif”. Kalau dipikir-pikir, hal itu wajar dalam percintaan bukan? ” Iya..!” (Jawab saya sendiri). Pernah pula dia saya diamkan. Tidak saya hiraukan. Dia menyapa, saya membuang muka. Dia menegur, saya menarik diri, mundur.
Saya cemburu..! , cemburu ketika dia akan kembali ke masa lalunya, Cemburu ketika orang lain jatuh cinta padanya. Padahal dia biasa-biasa saja,  “Seperti cintamu padaku, begitu pula aku membalas cinta mereka.

Sesuai kadar balasan dengan apa yang mereka berikan. Jika kamu ukur dengan timbangan, timbangan kejujuran tentunya, bukan timbangan yang kerap kamu temukan di pengadilan, pastilah kamu lihat takarannya disana. Percayalah.. Bagiku, tak ada cinta abadi yang sesungguhnya selain kepada Sang Pencipta” akunya di suatu ketika.

“Coba kamu pikirkan” teriak saya. “Saya berusaha keras mencintai, tapi kamu malah mencederai. Saya bosan..!”. Kamu senyum seraya menggeleng kepala. “Cinta itu, berasal dari hati dan perasaan.

Cinta itu, bukanlah kamu seperti apa yang aku inginkan, juga bukan aku seperti apa yang kamu inginkan. Tetapi kamu seperti yang kamu inginkan.

Karena di dalam cinta tidak ada tuntutan apalagi paksaan”. Sabar kamu menjelaskan.“Harus jujur dengan hatimu sendiri. Mencintai, bukan untuk ikut-ikutan. Mencintai, bukan untuk sebuah gengsi. Mencintai, berasas pada perasaan, bukan karena pesanan.

Dengan begitu kamu bisa paham, mana cinta yang berpakaian kemewahan, dan mana cinta yang berbaju ketulusan. Jika kamu bisa mengerti, kamu bisa miliki yang kamu ingini”.

Begitulah kamu menasehati disaat aku sudah hampir pasrah, menyerah. Berhenti, dan berjanji tidak akan kembali.
Sekarang, cinta ini menggelora lagi. Membara seperti api. Bahkan bertambah bergairah dan membuncah.
Tulisan, saya mencintaimu sepenuh hati, setulus jiwa dan raga ini. Otomatis, cinta yang selalu memandang optimis. Tanpa pesanan. Wahai seluruh penjuru alam, baik-baik dengarkan apa yang aku pekikkan: Aku hanya ingin menulis. Aku tidak akan pernah berhenti dari menulis hingga ‘ada’ yang menghentikanku dari kegiatan menulis..!.
“kamu ingat?” ucapmu tegas “kamu harus jujur, mencintai tulisan dengan perasaan. Bukan karena pesanan. Jangan takut untuk memulai. Karena perjuangan cintamu berawal dari satu kata, kata-kata, hingga disitu cerita tercipta menjadi suatu karya”. Aku mengangguk, tersenyum, bahagia akhirnya.
Semua orang-orang besar menuliskan catatannya, sesederhana apa pun. Sebab, itu berarti meninggalkan jejak pada sejarah, menginspirasi, mengilhami manusia-manusia sesudahnya. Itulah sebabnya, harganya menjadi mahal, hanya bisa ditukar dengan pahala abadi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: