Jadilah Kekuatan Al-Haq

 

Monday, 20/06/2011 06:22 WIB | Versi Cetak

oleh Mashadi

Manusia harus memilih dalam hidupnya. Memilih menjadi kekuatan al haq atau menjadi kekuatan al bathil. Memilih bergabung bersama dengan kekuatan hizbullah atau bergabung dengan hizbussyaithon.

Surat ar-Ra’du surah al-Qur’an menjelaskan dengan gamblang dengan pilihan-pilihan yang harus dilakukan oleh manusia. Risalahn-Na yang diberikan oleh Allah azza wa jalla mengatakan, bahwa kebenaran (al haq) merupakan kekuatan yang kokoh, sekalipun tidak nampak oleh mata. Sebaliknya, kebathilan adalah kekuatan yang kalah dan lemah. Kebathilan adalah kekuatan yang secara lahir nampak kokoh, tetapi sebenarnya sesuatu yang sangat rapuh dan tidak ada nilainya.

Hakikat ini banyak orang yang belum menyadarinya. Mereka sering terpedaya dengan kemilaunya kebathilan yang palsu. Kebathilan terkadang bentuknya beragam, bisa berbentuk gaya hidup yang serba “wah’ (ibahiyah) yang dilakukan secara terbuka atau kemaksiatan yang merajalela dikalangan pengawai atau pedagang yang berdusta serta penguasa yang menipu dalam pekerjaannya. Umat yang zalim melakukan tindakan sewenang-wenang terhadap umat Islam dan berani merampas haknya. Semuanya merupakan bentuk kekuatan bathil yang sangat rapuh.

Pengaruh Kebathilan Terhadap Manusia

Apabila hakikat kebathilan telah hilang dari pandangan manusia dan mereka terpedaya, bahkan takut kepada kebathilan, sehingga mereka sampai berani menganggap rendah kebenaran (al haq) yang ada pada mereka dan berusaha meniru dan mengikuti kebathilan itu, maka manusia akan menghadapi kehancuran bersama dengan kebathilan yang lemah itu.

Kita melihat banyak sekali orang bersekutu dan berkomplot dengan kebathilan dalam kehidupannya. Banyak sekali orang yang mengatakan bahwa “si pulan” sukses dalam perdagangannya dengan cara mencuri, menjilat, dan menipu. Juga “si pulan” sukses menjadi pemimpin, tetapi hakekatnya dia telah menjadi penipu dan pendusta terhadap al haq serta umat yang dipimpinnya. Mereka mengikuti semua langkah dan jejak kebathilan ketika merasa tidak membahayakan, meskpun mengikuti langkah kebathilan sebagai jalan yang sesat itu.

Kebahagiaan Semua

Manusia yang berjalan dibelakang kebathilan, digambarkan oleh Allah azza wa jalla, sebagai orang yang memandangi air dan mulutnya berusaha untuk mengambilnya. Padahal air itu tidak sampai ke mulutnya. Oleh karena itu, setiap orang yang berjalan di belakang kebathilan, hatinya akan berjalan di bekalang kebahagiaan. Sementara kebahagiaan semu yang diyakininya adalah gelas khamer (minuman keras) yang diminumnya, nyanyian tidak bermoral yang ia dendangkan, atau harta yang haram yang ia nikmati. Padahal sebetulnya, ia tidak akan bisa menggapai kebahagiaan sama sekali.

Allah azza wa jalla berfirman :

Hanya bagi Allah lah (hak mengabulkan) do’a yang benar”. (QS : ar-Ra’du : 14)

Maka, hendaklah manusia berjalan pada jalan Allah Ta’ala, karena sesungguhnya kebenaran yang sempurna adalah jalan Allah. Bukan jalan syaithon. Meskipun, banyak manusia yang memilih jalan syaithon, yang nampak indah dan menakjubkan, sehingga membuat mereka bersedia bergabung dengan “jamaah’ syaithon.

Lalu yang terkait dengan hakikat kebathilan dalam firman Allah azza wa jalla :

“Dan berhala-hala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya samai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya”. (QS : ar-Ra’du : 14)

Kebathilan Bagaikan Buih

Allah azza wa jalla memberikan perumpamaan yang mengagumkan untuk menegaskan bahwa kebenaran (al haq) adalah kekuatan yang kokoh sekalipun ia tidak nampak dihadapan manusia. Kebathilan adalah sesuatu yang rapuh yang tidak bernilai, meskipun ia nampak ke permukaan dan terkenal.

Firman-Nya :

“Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya”. (QS : ar-Ra’du : 17)

Air yang turun dari langit melambangkan kebenaran (al haq) dan kebaikan (al khiar) yang diturunkan bersama dengan wahyu. lalu apa pengaruh air? “Maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya”.

Perhatikan bagaimana kekuatan kebenaran dan kebesarannya, bagaimana air memasuki lembah untuk membawa kebaikan bagi kehidupan manusia, lalu apa yang terjadi, “Maka arus itu membawa buih yang mengembang”. Selamanya air akan membawa buih-buih (kebathilan) itu sampai kebathilan menjadi lenyap dari pandangan manusia.

Allah memberikan perumpaan yang lainnya, yang sangat indah dan mengagumkan, seperti dalam firman-Nya :

“Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu”. (QS : ar-Ra’du : 17)

Allah Membuat Perumpaan Kebenaran dan Kebathilan

Allah azza wa jalla memberikan perumpamaan yang sangat jelas antara al haq dengan al bathil guna mempertegas korelasi (hubungan) keduanya dengan tujuan utama, seperti yang terkandung dalam surah ar-Ra’du :

Demikianlah Alah memnbuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil”. (QS : ar-Ra’du : 17)

“Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya, adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah memnbuat perumpaan-perumpamaan”. (QS : ar-Ra’du : 17)

Marilah kita meninggalkan segala bentuk kebathilan yang nampak indah dan megah di mata, karena yang nampak indah dan megah itu, hakekatnya hanyalah semu, seperti digambarkan oleh Allah azza wa jallah sebagai buih, yang akan hilang bersama dengan datangnya angin dan gelombang yang akan membawanya ke tengah samudera kehidupan.

Memilih jalan kebathilan yang disangka akan membawa kebahagiaan dan kenikmatan, ternyata hanya kesia-siaan belaka, dan justeru menjerumuskan kedalam kehidupan yang melelahkan, dan akhirnya menghancurkan kehidupan manusia itu sendiri.

Allah azza wa jalla telah banyak memberikan ibroh (pelajaran) bagi manusia dengan sangat jelas, di mana semua pengikut dan yang memilih jalan kebathilan itu, akhirnya mengalami kehancuran. Umat-umat dan para pemimpinnya yang memilih jalan kebathilan dan kesesatan akhirnya hancur. Sejak zaman Nabi Nuh Alaihis sallam, sampai pada zaman Nabi Muhammad Shallahu alaihi was sallam.

Firman-Nya :

“Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah,(demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilintar lalu menimpakan kepada sispa yang Dia kehendaki, dan mereka berbantah-bantah tentang Allah, dan Dia lah Rabb yang Mahakeras siksa-Nya”. (QS : ar-Ra’du :13

Allah azza wa jalla akan memelihara dan melindungi mereka yang tetap dan istiqomah di jalan al haq (kebenaran) di jalan Rabb nya, tidak pernah meninggalkan risalah-Nya, dan menjadikannya sebagai minhajul hayah, serta menjauhkan diri dari jalan kebathilan, betapapun menarik dan indahnya kebathilan, yang hakikatnya hanyalah kepalsuan dan menjadi tipu daya manusia.

Tidak ada keraguan lagi Allah azza wa jalla akan menjadi pelindung, dan akan memberikan jaza’ serta kemuliaan bagi mereka yang selalu di jalan-Nya, dan tidak meninggalkan risalah-Nya. Mereka akan mendapatkan kemuliaan disisi-Nya kela di akhirat. Yakinlah.

Firman-Nya :

“Bagi orang-orang yang memenuhi seruan Rabbnya, (disediakan) pembalasan yang baik”. (QS : ar-Ra’du : 18). Wallahu’alam.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: