Berkaca pada Bening Hati Nelson Mandela

forgive but not to forget

(Memaafkan Tanpa Harus Melupakan)

Tanggal 11 Februari lalu genap 22 tahun Nelson Rolihlahla Mandela bebas dari penjara yang membelenggu raganya, tapi tidak jiwa dan pikiran-pikirannya….

Terbuat dari apakah hati seorang Nelson Mandela itu? Begitu pertanyaan yang memenuhi atmosfer bumi ini ketika Nelson Mandela tidak melakukan balas dendam apa pun terhadap rezim yang mendekamkannya dalam penjara Robben Island di Afrika Selatan selama 27 tahun (1963-1990). Lebih dari itu, ketika terpilih sebagai Presiden Afrika Selatan pada tahun 1994, ia justru merangkul “musuh-musuh” politiknya. Dengan keyakinan yang tinggi, Mandela mengajak rakyatnya untuk memaafkan apa yang pernah terjadi di masa lalu, tanpa harus melupakannya (forgive but not to forget).

Kebesaran hati Mandela itu membuat Afsel terhindar dari kerusuhan rasial atau perang saudara. Dengan rekonsiliasi yang ia bangun, Mandela ingin mengajak seluruh warga Afsel untuk sama-sama membangun negeri mereka.

Menurut sebuah kisah, hal yang paling Mandela sesali karena tidak melakukannya adalah ketika meninggalkan penjara ia lupa memohon pamit pada sipir berkulit putih yang hampir tiap hari melecehkannya. Ia pernah digantung dengan kepala terbalik lalu kepalanya dikencingi oleh sipir tersebut. Dan inilah yang paling mengharukan. Dalam acara pelantikannya menjadi presiden, Mandela mengundang sipir tersebut sebagai tamu kehormatan. Ia menyalami dan berkata, “Terima kasih, perlakuan Anda beberapa tahun silam telah menguatkan saya untuk memenangkan perjuangan ini.”

Sekadar menyegarkan ingatan, Nelson Mandela dipenjara karena kegiatannya yang anti apartheid. Pada 5 Agustus 1962, ia ditangkap dan dipenjarakan di Johannesburg Fort kemudian pada 25 Oktober 1962, ia dijatuhi hukuman 5 tahun penjara dan pada 12 Juni 1964, ia dan sekelompok aktivis lainnya dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Setelah menolak pembebasan bersyarat dengan menghentikan perjuangan bersenjata pada Februari 1985, Mandela mendekam dalam penjara.

Atas kebesaran hati pemilik nama lengkap Nelson Rolihlahla Mandela itu ia mendapat apresiasi tertinggi dunia sebagai penerima anugerah Nobel Perdamaian. Kemudian dunia melalui PBB menetapkan tanggal kelahirannya sebagai “Mandela Day” seperti yang telah disepakati oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam resolusinya bulan November 2009. Maka sejak tahun 2010, tanggal 17 Juli diperingati sebagai Hari Mandela. Penetapan hari khusus ini “menyimpang” dari kebiasaan. Biasanya peristiwa hidup yang dipakai untuk memeteraikan sebuah hari penting adalah hari kematian seseorang. Inilah salah satu keunikan dan keunggulan Mandela.

Sekali lagi, pertanyaan penting yang masih penting diajukan hari ini di saat orang tidak cukup mudah memberi maaf adalah “terbuat dari apakah hati Mandela itu?” . Mandela rupanya menyadari bahwa balas dendam hanya akan melahirkan balas dendam berikut. Lalu setelah balas dendam yang berikut akan melahirkan balas dendam yang berikut lagi, dan demikian seterusnya. Ia ingin memutus rantai itu.

David A. Seamand, seorang profesor emeritus di Asbury Theological Seminary di Wilmore, Kentucky, dalam bukunya berjudul Healing for Damaged Emotion: 1972 menyebut dua sumber rusaknya emosi, yakni kegagalan memaafkan orang lain (fail to forgive) dan kegagalan menerima permintaan maaf dari orang lain (fail to receive forgiveness). Kegagalan kita di dua hal itu menyebabkan kebencian dan kedendaman terus berlanjut sehingga merusak sistem emosi.

Senada dengan pendapat di atas, Gary Zukaf (The Heart of the Soul: 2002) menyimpulkan, sumber rusaknya emosi adalah rendahnya harga diri. Apa itu harga diri? Harga diri adalah bagaimana kita membangun perasaan terhadap diri sendiri berdasarkan apa yang kita lakukan dalam hidup kita. Semakin banyak kebaikan yang kita lakukan dalam hidup, akan semakin bagus juga harga diri yang terbangun.

Sebaliknya, semakin buruk perasaan kita terdahap diri sendiri, maka akan semakin kuat memicu kesombongan dalam bentuk sikap atau perilaku yang menuntut orang lain untuk menghargai kita atau jangan sampai mengungguli kita, misalnya cepat merasa tersinggung atau merasa direndahkan. Begitu kesombongan sudah kokoh, maka seseorang sulit memaafkan orang lain, sekali pun itu untuk urusan yang kecil.

Nelson Mandela memang adalah sosok yang unik. Dalam bukunya berjudul Mandela’s Way; Fifteen Lessons on Life, Love and Courage, Rick Stengel, managing director majalah Time menyebut Nelson Mandela sebagai A Complex Man. Ia bahkan menulis, “Nelson Mandela is perhaps the last pure hero on the planet. He is the smiling symbol of sacrifice and rectitude, revered by millions as a living saint.

Dengan semua itu, secara tidak langsung Mandela telah menyediakan diri dan hatinya untuk menjadi tempat setiap orang di dunia ini berkaca. Ya, pria berusia 93 tahun itu memiliki hati yang bening dan budi yang fajar. Sekarang tergantung kita, mau berkaca atau tidak? TAPI rasanya, kita perlu melajar dari Mandela kalau kita ingin membangun negara ini menjadi negara yang lebih bermartabat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: