Mentaajjubi Sifat Memaafkan Yang Dibalas Surga

“kalau aku biarkan & kupelihara terus kekesalan & kebencianku kepada para penindas itu, mereka yg pernah menyanderaku selama 27 th itu masih akan terus menyandera diri & jiwaku. Aku ingin jadi orang merdeka. Karena itu aku buang semua kebencian itu shg aku benar-benar merasa sebagai orang yg bebas & merdeka

-Nelson Mandela –

 Maaf adalah kata yang ringan terucap oleh lisan.  namun ketika ia diminta untuk  diberikan, mendadak berubahlah ia seberat Bukit Thursina atau sebesar Gunung Uhud. Karena memang maaf  bukanlah kerja dari lisan melainkan maaf adalah kerja (amal) dari hati. Beratnya memberi maaf kepada kesalahan orang lain tersebabkan oleh masih adanya rasa sakit hati dan luka yang menganga.  Luka ini   akan semakin sakit bila tidak segera diobati, ia hanya mampu terobati oleh satu kata ajaib bernama “maaf”.
Namun terkadang ada perasaan gengsi  yang menghijab diri. Bukan hanya pada orang yang gengsi untuk meminta maaf. Tapi untuk memaafkankan pun ternyata  seolah lebih sulit. Rasa gengsi itu biasanya kareana  adanya  perasaan self esteem  yang berlebihan. Sebuah perasaan ingin dihargai bahkan merasa perlu untuk dihargai orang lain yang berlebihan. ” Eh emang siapa sih yang salah,  situ Kan ? yang gentle  dong minta maaf !!!”  seperti itu kira-kira suara yang terbit di ufuk hati.  Saling berebut benar, merasa benar. Akhirnya luka hati kian parah dan bernanah.  Sehingga membuat dua orang manusia yang pernah bersahabat erat  kemudian satu diantara melakukan sebuah salah.  Menjadikan persahabatnny berakhir. Salam tak lagi  terucap ketika dua wajah bertemu sapa, senyum menghilang dari paras raupawan keduanya,  tutur kata indah dan santun  seolah lenyap bertukar dengan pahitnya caci maki. Luka semakin  meradang. Hingga berujung tikai atau saling mendiamkan. Padahal rasul melarang keras, mendiamkan lebih dri 3 hari, seorang muslim yang bertikai dengn saudara muslim. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ‘Tidak halal bagi seorang mukmin mendiamkan saudaranya melebihi tiga hari’.(HR. Muslim, Hadits No. 2561

 

Tapi seandainya kita mau berbesar hati, memaafkan. Masalahnya selesai.  Luka hati tidak  akan menjadi parah dan bernanah. inilah kata maaf yang menakjibkan itu. Ia berhasil sembuhkan luka hati yang parah bernanah, ia bagai embun yang sejuk akan hati yang gersang.   Saya menemukan sebuah kisah yang saya nukil dari bukunya Prof. Komarudin Hidayat bertajuk Psikologi Beragama. Ia menuliskan kisah tentang Nelson Mandela, presiden Afrika Selatan yang sempat mendekam dalam tahanan penguasa tiran  apartheid, hampir selama 27 tahun ia terpenjara. Di ruang yang sempit dan berbau, tak ada kursi dan meja,  diransum dengan makanan yang kurang layak dan sering kali diterima sudah basi. Hingga suatu saat sang tiran runtuh, dan berkuasalah  Nelson Mandela sebagai presiden kulit hitam pertama di tanah kelahirannya.  Suatu ketika seorang pendukungnya bertanya ” Apakah mandela yang kemudian menjadi presiden Afrika Selatan dan begitu dikagumi dunia, tidak merasa geram terhadap musuh-musuh politiknya di masa lalu?” Maka kata inilah yang diujapkan oleh Nelson Mandela, yang saya  kutip di atas. “Kalau aku biarkan & kupelihara terus kekesalan & kebencianku kepada para penindas itu, mereka yg pernah menyanderaku selama 27 th itu masih akan terus menyandera diri & jiwaku. Aku ingin jadi orang merdeka. Karena itu aku buang semua kebencian itu sehinga aku benar-benar merasa sebagai orang yg bebas & merdeka”.



Forgive & Forget,  ya itu moral the stories yang akan kita ungkap dalam kisah di atas. Memaafkan dan melupakan. Dialah pengobat pilunya hati , laranya jiwa akibat  dendam.  Keduanya adalah dua sisi mata uang yang saling bertautan. Tidak mungkin bisa memaafkan bila tidak melupakan kesalahan yang pernah diberbuat oleh orang terhadap kita.   Dan untuk bisa melupakan rasa pedih dan sakitnya akibat kesalahan yang pernah dilakukan terhadap kita  tidak lain dengan cara memberikan maaf yang tulus.

John C. Maxwell, seorang psikolog menyebut langkah memberikan maaf dan tidak ingin menyimpan dendam adalah perilaku orang-orang yang mengambil jalan tinggi. Mengambil jalan yang terhormat. Ia tidak ingin menyiksa bathinnya dengan menyesaki bara dendam permusuhan. Senada dengan Maxwell, Zainal Abidin Ibn Husain, buyutnya Rasulullah SAW, beliau  adalah saksi mata yang melihat langsung bagaimana sang ayah Husain bin Ali meregang nyawa dengan tubuh terbelah dan terpisah di Padang Karbala. Namun  apa kata Zainal Abidin Ibn Husain ketika ditanya apakah beliau dendam dengan pelaku pembunuhna sang ayah ? Dengan arif beliau menjawab, “Dendam ialah laksana menegak racun ke dalam kerongkongan namun berharap orang lain yang binasa” . Aaaah, dendam adalah perbuatan orng yang bodoh. Mengapa ia mau berpayah-payah menyiksa diri, hingga sulit tidur, sulit makan,  susah tersenyum, berkata dengan kata yang menyakitkan,  harus mencari jalan lain untuk sekedar menghindari bertatap muka dengannya, mendengar nasihat yang indah darinya seperti mendengar teriakan, pemberian hadiah tak ubahnya seperti menyiram luka dengan air garam.. ahhhh sungguh bodoh !! bodoh !! bodooh pelaku dendam. Ia mati karena racun yang di tenggaknya namun berharap orang lain turut binasa. Padahal orang lain justru tersenyum, sementara kita lah yang menderita.

 

Rasulullah pun kembali mengingatkan, Bahwa seseorang yang paling dibenci oleh Allah adalah yang paling sengit dalam permusuhan”.  Karena islam sangat membenci perpecahan. Allah menghendaki agar hamba-hamba yng beriman  saling berpegang teguh pada tali Allah.  Rasulullah berwasiat dalam khutbah wada’ nya :  “Wahai manusia! Kalian hendaklah mengerti bahwa orang-orang beriman itu bersaudara,kemudian beliau menambahkan “Bahwa segala bentuk perbuatan dan kebiasaan dimasa jahiliyah tidak boleh berlaku lagi. Tindakan menuntut balas atas kematian seseorang sebagaimana yang berlaku di masa jahiliyah juga tidak boleh berlaku lagi… (Segala bentuk) riba jahiliyah juga tidak boleh berlaku lagi!…”

Sifat pemaaf, mudah memberikan maaf inilah yang menjadi rahasia amalan Abu Umamah. Masih ingat  kisah ketika Rasulullah bersabda dalam sebuah majelis “sesaat lagi akan ada seorang ahli surga yang melintas“. Lalu  lewatlah Abu Umamah, kemudian Ibnu Umar mengikuti  beliau hingga ke rumah dan berpura-pura untuk menginap di kediaman Abu Umamah.   Hingga malam ketiga tak jua dijumpai suatu amalan spesial  menurut ibnu umat  yang menjaminkan  Abu Umamah sebagai seorang ahli surga. ” ketahuilah aku senantiasa memaafkan kesalahan sahabat-sahabatku sebelum aku berbaring, dan aku tiada dengki pada nikmat yang diberikan Allah kepada sahabat-sahabatku”. Demikian tutur Abu Umamah, tentang rahasia amalannya.

 

Bagi seorang nan pemaaf, Allah sediakan baginya surga seluas langit dan bumi. Maka tunggu apa lagi ? apa yang menghalangi kita untuk tidak bisa memberi maaf kepada orang lain? buknkah ketika kita bersalah terhadap orang lain, sejuta harap akan maaf kita pinta. Lalu mengapa sekarang kita sulit memaafkan ?

 

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan (QS Ali Imran: 133-134)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: