WIRID AGAR SAMPAI KEPADA ALLAH

“Karna itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kamu kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku”. (Q.S Al-Baqarah 152).

Wirid adalah seruan yang mengandung permohonan secara istiqamah kepada Allah Swt.Wirid diartikan juga dengan do’a-do’a yang diucapkan berulang-ulang setiap hari. Sedangkan dalam istilah tasawuf, wirid adalah do`a yang dicapkan berulang-ulang pada waktu-waktu tertentu terutama setelah sholat fardhu. Wirid Jamaknya adalah aurad.

Asy-Syaikh Sayyidina Abdullah bin Alwi al-Haddad mempunyai mempunyai berbagai macam wirid diantaranya Hizb Al-Fath wa An-Nashr, Wirid ini disebut juga dengan Al-Wird Al-Lathif yang berisi kumpulan do`a-do`a Nabi Muhammad saw wirid ini biasanya dibaca setelah shalat Fajr (Shubuh) setiap hari, atau juga ada lagi wirid yang masyhur yaitu Ratib Al-Haddad atau Ratib Al-Isya yang dibaca setelah shalat Isya. Ada juga Ratib Al-Habib Umar bin Abdurrahman Alatas. Atau Dzikir-dzikir yang dihimpun menjadi sebuah Thariqah. Sebut saja dzikir Thariqah Qadiriah yang bersanad kepada wali besar Al-Imam Asy-Syaikh Abdul Qadir Jailani Al-Bagdhadi, atau Thariqah Syadziliyyah yang bersanad kepada Al-Imam Abul Hasan Ali Asy-Syadzili, dan semua wirid-wirid ini bersanad hingga ke Nabi Muhammad saw.
Wirid sangat berhubungan erat dengan istilah warid bahwa orang yang enggan atau tak pernah melakukan dzikir atau wirid maka ia tidak akan pernah mendapatkan warid. Warid adalah suatu petunjuk (hidayah) yang diturunkan kedalam hati seorang hamba yang telah istiqamah melakukan dzikir atau bisa disebut juga sebagai ilham.

Al-Imam Asy-Syaikh Ahmad ibn Athaillah As-Sakandari mengatakan:

“Apabila anda melihat seorang hamba yang ditetapkan oleh Allah dalam menjaga wiridnya dalam waktu yang cukup lama ( istiqamah ) smentara anda tidak melihat anugerah keistimewaannya, maka jangan anda pandang remeh akan anugerah Allah kepadanya. Karena anda tidak memahami karunia Allah yang sebenarnya telah diterimanya, sebab ia tidak menunjukan tanda-tanda orang arif pada dirinya dan kecintaannya kepada Allah swt. Sebab seandainya tidak ada karunia Allah yang besar buatnya dengan sebab wirid, tentu tidak mungkin ia akan melakukan wirid.

Sayyidina Al-Imam Al-Faqih Al-Muqaddam dalam sehari beliau membaca laa illaha ilallah 25 ribu kali dan shalawat kepada Nabi Muhammad saw 25 ribu kali. Beliau dikenal sebagai wali besar di zamannya bahkan keluarga beliau berkata “dulu ketika kami masih bersama Sayyidina Al-Imam Al-Faqih Al-Muqaddam masih hidup berita-berita dari langit itu selalu datang, akan tetapi ketika Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam telah tiada kini berita-berita itu tak pernah ada lagi”.

Guru dari guru kami Asy-Syaikh Abdul Aziz pemilik Pondok Pesantren Al-Aziziah Cikereteg berkata:”bacalah walaupun hanya bismillahir rohmaannirrahiim, amalkan sebagai wirid karna suatu saat amalan itu pasti akan bermanfaat bagi diri kita dikemudian hari”

Dikisahkan ketika Al-Imam Junaid Al-Bagdhadi sholat berjama`ah, selesai sholat beliau melihat seseorang yang setelah mengucapkan salam dan langsung bangun dari duduknya tanpa berdzikir kepada Allah swt, maka Al-Imam Junaid Al-Bagdhadi menarik sarung orang tersebut dan mengatakan ”Apakah engkau tidak ada rasa butuh kepada Allah swt. wahai fulan hingga engkau pergi begitu saja”

LAMBANG KEWALIAN

Abu Qasim Al-Qusairi berkata:

“Dzikir itu merupakan lambang kewalian, pelita penerang hati untuk sampai kehadirat-Nya, penguat Iradah, tanda kebenaran permulaan untuk sampai pada kejernihan puncak tujuan”.
Dzikir adalah cara yang paling tepat untuk sampai (wushul) kepada Allah swt. Ada pula yang mengatakan dzikir merupakan maklumat kewalian. Barangsiapa yang diberi petunjuk untuk selalu berdzikir, berarti ia telah diberi maklumat untuk kewalian itu. Dan barangsiapa yang menghentikan dzikir berarti dia kehilangan kesempatan unutuk menjadi kekasih Allah swt.

Al-Imam Asy-Syaikh Ahmad ibn Athaillah As-Sakandari mengatakan:

“Janganlah anda tinggalkan dzikir kepada Allah swt, karena anda belum bisa selalu ingat kepada Allah pada saat berdzikir. Sebab kelalaian anda kepada Allah tanpa berdzikir adalah lebih berbahaya daripada kelalaian anda kepada Allah dalam keadaan sedang berdzikir. Mudah-mudahan Allah meningkatkan anda untuk berdzikir, dari dzikir yang lalai menjadi dzikir yang penuh dengan kehadiran hati”

ISTIQAMAH

Istiqamahnya kita ingat kepada Allah swt dengan wirid yang kita amalkan secara teratur dan terus menerus (Istiqamah) merupakan sebuah karunia yang besar dari Allah. Rasulullah saw sangat menyukai suatu amalan yang istiqamah walaupun itu kecil. Seseorang itu dikatakan istiqamah jika ia mengamalkan secara terus menerus setiap harinya, seperti Rasululah saw memerintahkan kita agar membaca surah Al-Mulk sebelum tidur maka bacalah itu setiap malamnya ketika hendak akan tidur akan tetapi jika kita berhalangan untuk membacanya, maka dihari berikutnya surah itu dibaca dua kali sebagai pengganti bacaan kita yang terlewat kemarin. Begitulah seseorang dikatakan istiqamah didalam mengamalkan wiridnya.

Syaikh Ali Ad-Daqqaq mengatakan:

“Jadilah engkau sebagai seorang yang mampu beristiqamah dan jangan sibuk mengharapkan karomah, dirimu selalu bergerak dalam pencarian karomah sedangkan Tuhanmu menghendaki engkau tetap dalam istiqamah”

Biarkanlah Allah yang akan memberikan warid karena pemberian Allah lebih daripada faedah-faedah dzikir itu sendiri atau dari apa-apa yang kita inginkan, biarkanlah Allah yang memberi karena Allah Maha Mengetahui daripada diri kita sendiri. Karena memang itulah tujuan dari berdzikir kepada Allah bukanlah karena maksud dan tujuan tertentu, melainkan demi mencari keridhaan Allah swt. semata (mardhatillah) dan mengkhususkan hanya untuk ibadah semata dan mendekatkan diri kepada Allah swt. Bukan untuk mencari keduniaan atau untuk kepentingan kepada makhluk.

Syaikh Ahamad ibn Atha`illah mengatakan:

“Bagaimana anda akan meminta upah pada suatu amal, padahal Allah sendiri yang menyedekahkan amal itu kepada anda. Bagaimana mungkin anda meminta balasan atas suatu kesungguhan dan keikhlasan, padahal Allah yang memberi hidayah keikhlasan itu kepada anda.”
Orang-orang arif tak pernah mengharapkan pahala atau imbalan atas ketaatannya itu, karena mereka meyakini bahwa ketaatan yang ada pada diri mereka sendiri adalah semata-mata hanya anugerah dari Allah swt.

Diceritakan ada seorang ahli Ibadah yang beribadah selama 70 tahun dan tak pernah melakukan kemaksiatan, maka Allah memeintahkan kepada malaikat-Nya “Masukanlah orang ini kedalam syurga karena rahmat-Ku” lalu seorang ahli ibadah itu bertanya “Ya Allah karena amalku” maka Allah swt berfirman lagi kepada malaikat-Nya “Masukanlah orang ini kedalam syurga karena rahmat-Ku” lalu seorang ahli ibadah itu berkata lagi “Ya Allah karena amalku” hingga yang ketiga kalinya akhirnya Allah swt memerintahkan agar menimbang nikmat-nikmat Allah yang telah diberikan kepada ahli ibadah tersebut, ketika ditimbang dengan nikmat penglihatan saja maka amal ibadah 70 tahun tersebut tak mampu menyamai nikmat penglihatan yang diberikan Allah kepada ahli ibadah tersebut. Allah swt berfirman kepada malaikat-Nya “Wahai malaikat-Ku masukan orang ini kedalam neraka “ akhirnya sang ahli ibadah itupun sadar dan Allah swt memasukannya kedalam syurga.

Bukankah kita bisa berjalan Allah yang mengerakannya, bukankah kita dapat melihat Allah yang membukakannya untuk kita, bahkan kita dapat beribadah, menuntut ilmu, duduk berdzikir dan berdo`a kepada Allah swt karena hidayah Allah swt. tiada daya dan kekuatan melainkan dari Allah swt.
Boleh-boleh saja mengharapkan faedah dari dzikir, atau bila dengan dzikir atau amalan itu dapat menghindarkan diri kita dari bahaya dan kerugian atau mendapatkan keberuntungan. Seperti Rasulullah saw memerintahkan kita agar membaca surah Al-Mulk setiap malam agar kita dihindarkan oleh Allah dari siksa kubur, jadi kita niat membaca Al-Mulk agar diselamatkan oleh Allah dari siksa kubur. Kita memang diwajibkan oleh Allah untuk bersholawat kepada Nabi Muhammad saw dan Sayyidina Asy-Syaikh Al-Habib Saggaf bin Mahdi bin Syaikh Abu Bakar bin Salim menganjurkan untuk membaca shalawat kepada Nabi, beliau berpesan “Bacalah Shalawat kepada Nabi Muhammad saw 400 kali setiap malam maka akan dihilangkan oleh Allah kefakiran” kita berniat membaca shalawat agar dihindarkan dari kefakiran dan itu dibolehkan, misalnya agar orang-orang dengan faedah dari bacaan itu bermanfaat dan menghidarkan bahaya dari mereka.

Oleh karena itu jangan pernah sia-siakan waktu kita hanya untuk kesibukan dalam urusan keduniaan dan membuat kita tidak menghadap kepada Allah swt. Luangkan waktu kita untuk duduk dan berdzikir kepada Allah swt. Bukankah Allah memerintahkan agar banyak-banyak menyebut Nama Allah di pagi dan petang agar kita beruntung.

“Hai orang-orang yang beriman berdzikirlah (dengan menyebut nama Allah), dzikir yang sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang.” (Q.S. Al-Ahzab 41 – 41).

Berdzikirlah dengan ikhlas dan dengan megharapkan keridhaan Allah swt semata. Tanpa mengharapkan dari faedah-faedah dzikir tersebut, karna Allah Maha Luas Pemberiaan-Nya lebih dari faedah-faedah dzikir itu sendiri . Lakukan dengan hanya mengharapkan ridha Allah swt. karena kita tak akan pernah tahu hadiah
(Warid) apa yang akan diberikan oleh Allah swt kepada kita karena memuji dan mengagungkan Allah swt.

Waullaahu `alam bishowab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: